Benign Masochism pada Ibu: Mengapa Rasa Lelah Justru Terasa Membahagiakan?

Benign Masochism pada Ibu: Mengapa Rasa Lelah Justru Terasa Membahagiakan?

Mungkin Anda pernah bertanya mengapa seorang ibu tetap tersenyum meski semalaman tidak tidur karena anaknya sakit? Atau mengapa ia masih menikmati memasak, membereskan rumah, dan mendampingi anak belajar, padahal tubuhnya sudah sangat lelah? Sekilas, semua itu tampak seperti beban yang menguras tenaga. Namun, bagi banyak ibu, ada kepuasan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Dalam dunia psikologi, pengalaman tersebut dapat dipahami melalui konsep benign masochism. Istilah ini mungkin terdengar asing, tetapi tanpa kita sadari, banyak ibu mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bukan menikmati penderitaan, melainkan menemukan makna dan kebahagiaan di balik perjuangan yang dilakukannya demi keluarga. Penasaran pengen tau apa itu benign masochism, yuk simak ini hingga akhir.

Apa Itu Benign Masochism?

Konsep benign masochism diperkenalkan oleh psikolog Paul Rozin untuk menggambarkan kecenderungan seseorang menikmati pengalaman yang sebenarnya tidak nyaman, tetapi tetap terasa menyenangkan karena situasinya aman dan memiliki makna.

Contohnya cukup beragam. Mulai dari orang yang menyukai makanan sangat pedas hingga berkeringat, menikmati sensasi menonton film horor, atau bangga menyelesaikan lomba lari meski tubuh terasa pegal. Pengalaman tersebut memang tidak nyaman, tetapi justru menghadirkan kepuasan setelah berhasil dilalui. Seperti itulah konsep benign masochism.

Nah, pada seorang ibu, bentuknya sedikit berbeda. Seorang ibu rela bangun berkali-kali pada malam hari untuk menyusui bayi, menghabiskan waktu memasak makanan kesukaan keluarga, atau mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah meski dirinya sendiri sudah sangat lelah.

Tampak jelas di sini bahwa ibu bukan menikmati rasa sakit atau lelahnya, melainkan makna yang hadir setelah pengorbanan itu ia lakukan.

Ketika Lelah Berubah Menjadi Wujud Kasih Sayang

Menjadi ibu berarti menjalani berbagai tantangan yang tidak ringan. Sejak masa kehamilan, proses melahirkan, menyusui, hingga mendampingi anak bertumbuh, selalu ada energi, waktu, dan perhatian yang dicurahkan.

Meski demikian, banyak ibu tetap menjalani semua itu dengan penuh cinta. Bahkan setelah bekerja seharian, mereka masih menyempatkan diri mendengarkan cerita anak sebelum tidur atau menyiapkan bekal untuk esok pagi.

Rasa lelah yang mereka rasakan perlahan berubah menjadi simbol kasih sayang. Setiap pengorbanan terasa bermakna karena ibu melakukannya demi melihat anak tumbuh sehat, bahagia, dan merasa dicintai.

Inilah salah satu alasan mengapa pengalaman yang melelahkan dapat tetap menghadirkan kebahagiaan.

Mengapa Benign Masochism Banyak Terjadi pada Ibu?

Ada beberapa faktor yang membuat benign masochism sering muncul dalam pengalaman seorang ibu.

Pertama, setiap usaha yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas. Ketika anak berhasil melewati masa sulit, belajar sesuatu yang baru, atau sekadar tersenyum bahagia, ibu merasa perjuangannya terbayar.

Kedua, hubungan emosional antara ibu dan anak menciptakan rasa kepuasan yang mendalam. Pelukan kecil, ucapan “terima kasih”, atau tatapan penuh kasih sering kali menjadi hadiah yang jauh lebih berharga dibandingkan rasa lelah yang ibu rasakan.

Ketiga, menjadi ibu dapat membentuk identitas seseorang. Banyak perempuan memandang pengasuhan sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Karena itu, apa saja tantangan yang muncul tidak akan menjadi beban, justru ibu menganggapnya sebagai salah satu proses bertumbuh.

Pengorbanan yang Bermakna Bukan Berarti Mengabaikan Diri Sendiri

Meski terdengar positif, benign masochism tidak boleh disalahartikan sebagai kewajiban untuk terus berkorban tanpa batas. Ada perbedaan besar antara menikmati perjuangan yang bermakna dengan mengorbankan kesehatan fisik maupun mental.

Apabila seorang ibu terus memaksakan diri, tidak pernah beristirahat, merasa bersalah ketika meminta bantuan, atau mulai kehilangan kebahagiaan dalam menjalani hari, kondisi tersebut bukan lagi pengalaman yang sehat.

Tubuh dan pikiran sama-sama memiliki batas. Ketika batas itu terus diabaikan, kelelahan dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan, bahkan burnout dalam pengasuhan.

Ibu Juga Berhak Beristirahat

Banyak ibu merasa bahwa dirinya harus selalu kuat. Padahal, menjadi kuat tidak berarti harus mengerjakan semuanya sendirian. Ibu juga punya hak untuk istirahat dan santai.

Beristirahat bukanlah bentuk kemalasan. Sebaliknya, istirahat merupakan cara menjaga energi agar tetap mampu hadir secara utuh untuk keluarga.

Meluangkan waktu membaca buku, menikmati secangkir teh, berjalan santai, menulis jurnal, atau sekadar tidur siang selama beberapa menit dapat membantu memulihkan kondisi fisik dan emosional. Jika semua kebutuhan ini terpenuhi maka akan lebih mudah bagi ibu untuk memberikan perhatian, kesabaran, dan kasih sayang kepada anak-anak dan keluarganya.

Tidak Ada Ibu yang Harus Menjadi Superwoman

Kebanyakan masyarakat menganggap ibu sebagai sosok yang mampu melakukan segala hal. Padahal tidak demikian, setiap ibu memiliki keterbatasan. Ibu berhak meminta bantuan pasangan, berbagi tugas dengan anggota keluarga, atau menerima dukungan dari orang terdekat. Hal seperti ini bukanlah tanda kelemahan. Justru kemampuan menerima bantuan menunjukkan bahwa seorang ibu memahami batas dirinya.

Selain itu, anak-anak akan belajar dari contoh tersebut. Mereka akan memahami bahwa setiap anggota keluarga dapat saling membantu dan saling menguatkan. Artinya,  keluarga bukan hanya tempat seorang ibu memberi, tetapi juga tempat ia menerima kasih sayang.

Penutup

Konsep benign masochism membantu kita memahami bahwa manusia dapat menemukan kebahagiaan di balik pengalaman yang melelahkan ketika pengalaman tersebut memiliki tujuan dan makna. Pada seorang ibu, makna itu sering hadir melalui kasih sayang yang diberikan kepada keluarga setiap hari.

Namun, mencintai keluarga tidak berarti mengabaikan diri sendiri. Seorang ibu tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat, didengarkan, dan dirawat sebagaimana ia merawat orang-orang yang dicintainya.

Inilah keindahan menjadi seorang ibu. Bukan karena rasa lelah yang terasa menyenangkan, tetapi karena cinta mampu mengubah setiap perjuangan menjadi kenangan yang layak untuk dikenang. Seorang ibu, di balik mata yang kurang tidur, tangan yang lelah, dan langkah yang tak pernah berhenti, selalu ada hati yang merasakan kebahagiaan sederhana ketika melihat keluarganya baik-baik saja.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *