Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Hati Resah?

Jujur, sudah berhari-hari rasanya cukup berat bagiku. Sejak membuka mata di awal subuh pikiranku sudah penuh. Otakku tak berhenti berpikir karena memaksa harus menjawab berbagai pertanyaan yang sambung-menyambung seperti sebuah tali yang tak berujung. Seperti tali yang mengikat erat hingga membuatku merasa seperti tercekik.

Aku sendiri tak paham, sebenarnya apa inti dari pikiranku ini. Yang kutau dan kurasa hanya sebuah resah tak berujung. Hampir dua bulan ini aku memendamnya. Tanpa pernah berpikir untuk mencari solusi. Kubiarkan hidup berjalan seperti biasa. Rutinitasku tak ada yang berubah. Sebagai ibu dan isteri aku tetap melakukan pekerjaanku. Hanya saja ada satu yang berbeda dariku dan aku menyadarinya, sangat.

Aku merasa titik lelahku hampir melampaui batas. Sabarku merosot jauh, ucapanku sering tak terkontrol dan semua kalimat yang keluar dari mulutku bernada naik. Rasa panik dan khawatirku juga seolah melewati ambang batas. Aku seperti memegang segelas air yang isinya terlalu penuh. Bila tanganku bergerak sedikit saja maka air akan tumpah. Pikiran-pikiran buruk terus menghantuiku. Aku cemas pada sesuatu yang bahkan belum terjadi.

Seperti yang kubilang tadi, aku tetap melakukan rutinitas seperti biasa, namun dengan kepala penuh. Setiap ucapan yang keluar dari mulutku tak selaras dengan isi otakku. Hingga tadi pagi, ketika hatiku masih gundah, tapi kuputuskan untuk melepaskannya. Resah tentang hidup yang tak sejalan dengan dengan keinginanku ingin kuhempas dalam-dalam ke dasar waktu. Berharap setiap detik yang lewat akan membawanya pergi bersama seluruh ketakutan yang perlahan-lahan menggerogoti pikiranku.

Di Mana Menemukan Obat Anti Resah?

Adakah obat anti resah seperti halnya antidepresi, penurun panas, atau untuk meredakan berbagai keluhan tubuh? Apa ada sebuah pil yang bisa ditelan ketika pikiran mulai gaduh dan hati tidak lagi menemukan tempat untuk tenang? Atau adakah obat yang bisa membuat kita berhenti memikirkan kemungkinan buruk, menghapus ketakutan, lalu mengembalikan perasaan seperti sedia kala?

Sayangnya, tidak ada obat sederhana yang bisa membuat semua keresahan hilang begitu saja.

Resah bukan sebuah luka yang tampak. Tidak membiru seperti lebam, tidak berdarah seperti luka sayat, dan seringnya tak bisa dijelaskan. Resah wujudnya berupa dada yang terasa penuh, pikiran yang berputar tanpa henti, tidur yang tidak nyenyak, atau perasaan tidak nyaman yang datang tanpa mengetuk pintu. Dan akan semakin melelahkan ketika kita sendiri tidak tahu harus mencari obatnya di mana.

Obat Mujarab Mengurai Resah

Tapi apa kau tahu? Hari ini aku menemukan obat resah yang menurutku paling afdol. Obat ini akan membuat resah sirna. Luka tak akan terasa perih lagi dan yang pasti hati menjadi tenang. Aku menyadarinya pagi ini, ketika menemani suami berbelanja keperluan jualan. Saat berangkat dengan hati yang masih gundah, isi pikiranku masih luber seperti tandon air yang hampir meledak. Namun di tengah jalan aku menatap jariku yang tertutup rapat. Pandanganku seolah tembus melewati kain hitam sarung tangan, menatap buku-buku jariku.

Perlahan lisanku mengucap pelan, tidak di dalam hati, tapi berbisik aku menyebut nama-Mu. Bisikan yang benar-benar lirih sehingga suamiku yang sedang memboncengku tak mendengar. Mungkin hanya angin yang menyadari setiap dzikir dan istighfar yang kulafazkan. Sepanjang jalan tak henti kulafazkan. Bahkan saat suamiku bercerita atau bertanya aku hanya menjawab hmm, iya, ngga atau kalimat pendek lainnya.

Perjalanan yang biasanya kurasa panjang, jadi terasa singkat. Kepalaku yang tadinya penuh sedikit demi sedikit jadi terasa ringan dan lapang. Seperti tandon air yang tadinya tersumbat dan hampir meledak, dzikir dan istighfar itu perlahan membuka katupnya, membiarkan ketakutan dan gemuruh di kepalaku mengalir keluar menjauh.

Hari ini aku belajar dari resahku, bahwa resah sebaiknya tak kubiarkan menggelayut di pikiranku, apalagi hingga menggerogoti dan membuat pikiranku penuh sesak. Bahwa resah ternyata ada obat terbaiknya. Obat sederhana, hanya dengan dzikir.

Aku juga sepenuhnya sadar, masalah yang membuatku resah belumlah usai dan aku baru mengurainya agar tak bertambah kusut semrawut. Tapi setidaknya untuk saat ini, aku telah memegang kembali kendali atas diriku sendiri. Aku bisa menatap besok hari tidak lagi sekeras tadi subuh, karena kini aku menghadapinya dengan pikiran yang jernih.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *