Setengah Hari Tanpa Listrik di Kampung Nelayan Pisang-Pisangan, Berau Kaltim

Setengah Hari Tanpa Listrik di Kampung Nelayan Pisang-Pisangan, Berau Kaltim

Ahad, 9 November 2025 kemarin, akhirnya terealisasikan juga trip ke Kampung Nelayan Pisang-Pisangan yang ada di Berau Kalimatan Timur. Perjalanan yang sudah beberapa kali di rencanain akhirnya jadi, fixed kita otw. Kita ikutan om Musa (adiknya suami) yang kebetulan punya kerjaan di sana. Proyek kecil-kecilan, pasang sekaligus maintenance jaringan internet pake hotspot yang aksesnya bisa di  remote dari jarak jauh.

Kalau ikut rencana, kami berangkat abis subuh dari Berau. Tapi ternyata jam 7 lebih barulah benar-benar otw. Itu karena banyak printilan persiapan yang belum kelar. Mulai dari masak bekal belum selesai, padahal hanya bikin ayam goreng lengkuas, telur dadar, tahu goreng dan sambal hingga anak-anak yang masih antre ke kamar mandi.

Setelah semua beres, akhirnya mobil pun mulai meluncur dari kota Berau. Kendaraan kami melintasi sungai dengan melewati jembatan menuju ke arah Sambaliung. Selama perjalanan, kami melewati beberapa desa termasuk diantaranya Kampung Bangun, Gurimbang, Suaran, Mangkajang, Mantaritip/Pilanjau lalu Buyung Buyung. Akses jalan cukup mudah dengan rute lurus, berbelok hingga beberapa tanjakan/gunung yang lumayan tinggi sampai-sampai ac mobil harus off, hehehe. Syukurnya, lalu lintas tak begitu ramai meski begitu tetap saja beberapa kali kami berpapasan dengan truk-truk besar atau kendaraan lain yang pagi itu menuju kota Berau.

Mangrove, Awas Ada Buaya!

Setelah lebih dari dua jam perjalanan akhirnya kami tiba di Mangrove. Sesuai dengan namanya, sepanjang jalan menuju rumah pak RT (teman om musa) yang kami lihat hanya pohon mangrove atau bakau. Jalannya pun sudah bukan aspal lagi, tetapi tanah yang bercampur dengan batu kerikil. Kata om musa, di jalan ini saat malam hari biasanya banjir apalagi kalau air laut sedang tinggi terutama saat bulan purnama. Pikirku mungkin semalam air naik ke jalan ini sebab beberapa ruas jalan becek parah namun tetap bisa dilewati perlahan. Sejenak aku menarik nafas dan speechless melihat pemandangan di kiri dan kanan sepanjang jalan ini. Jalan yang lengang karena hanya kami yang saat itu melewatinya. Cuaca sangat panas tapi sinar matahari tak bisa menembus rimbunnya daun-daun pohon mangrove yang akar-akarnya besar dan menjulang tinggi. Memoriku langsung terbang ke 28 tahun silam. Flashback yang benar-benar mengungkit semua kenangan terbaik saat masih kuliah, di mana saat itu aku pernah menyusuri hutan mangrove kalau nggak salah sekitar tahun 1997 atau 1998. Waktu itu, aku mengikuti acara anak-anak wanabakti di Teluk Kaba Bontang, bareng teman satu kost saat kuliah dan juga teman-teman dari Taman Nasional Kutai.

Setibanya di rumah pak RT, kami pun menurunkan semua bawaan termasuk bekal, dan beberapa peralatan kerja si om. Mobil akan parkir di tempat ini, selanjutnya perjalanan akan melintasi muara dan pesisir laut. Seperti apa rasanya? Ada sedikit gugup tentunya, karena sudah lama nggak naik perahu atau speed boat. Belum lagi kata om musa di tempat ini banyak buaya, jadi khawatirnya nambah-nambah. Peralatan dan bekal kami angkut menuju dermaga kecil di belakang rumah pak RT. Pohon mangrove atau bakau tampak jelas di pelupuk mata. Bahkan sepanjang mata memandang yang terlihat hanya pohon bakau serta air laut yang berwarna hijau. Kami menunggu perahu tempel sekitar 15 hingga 20 menit. Perahu dengan mesin 40 PK (kalau nda salah) inilah yang akan mengantar kami ke tujuan, Kampung Radak dan Kampung Pisang Pisangan.

Kampung Radak

Saat perahu merapat ke dermaga, otakku sedikit ngelag pas ngeliat perahu yang datang. Benar-benar ngga seperti yang kubayangkan. Perahunya kecil piuuhh.. Aku sempat mikir, apa muat perahunya untuk kita sembilan orang. Kata om musa muat aman. Akhirnya dengan bismillah kami naik perahu satu persatu dan duduk secara berbaris ke belakang. Aish.. benar-benar press, ngga ada tempat luang di perahunya. Perahu tempel pun berangkat, jalannya perlahan karena angin lumayan kencang sehingga membuat riak-riak air berupa ombak lumayan besar dan tinggi dan cukup bikin jantung berdebar. Sudah lama aku nda merasa gugup seperti ini. Biasanya perasaan khawatir dan gugup ini muncul kalau mau take off pesawat. Om motorisnya bilang nda bisa bawa perahunya laju, kalau laju air laut pasti akan nyiprat ke kita-kita. Kebayang ngga tuh, naik perahu kecil dan saking kecilnya tangan yang ditaruh di sisi kanan dan kiri perahu bisa menyentuh air, ombak besar, angin lumayan kencang, cuaca panas, air asin nyiprat waaah….

Sekitar 10 menit akhirnya sampai ke kampung tujuan pertama, Radak. Di sini kami naik ke rumah om motoris yang ternyata salah satu pelanggan internet om musa. Di rumah beliau jugalah om musa menitipkan alat dan memasang solar cell untuk support jaringan internetnya. Setelah lebih dari satu jam akhirnya kami kembali naik ke perahu dan melanjutkan perjalanan ke dua menuju Kampung Nelayan Pisang Pisangan.

Perjalanan ke kampung ini kembali membuat jantungku kembali dugun dugun sebab jaraknya lebih jauh. Kalau dari Mangrove ke Radak hanya kurang lebih 10 menit, nah dari Radak ke Pisang Pisangan waktunya setengah jam. Kondisi perahu yang full muatan, angin kencang dan berombak membuat perjalanan benar-benar pelan. Om motoris sampai ketawa dan bilang wah kita betul-betul nda bisa laju ini, anginnya kencang. Selama perjalanan melintasi laut muara ini dipenuhi tawa dan cerita. Tapi aku hanya jadi pendengar dan sesekali senyum atau menimpali cerita. Hatiku tetap berdebar dan mulutku tak berhenti membisik doa. Beginilah kondisi mamak-mamak yang sok berani padahal penakutnya ngga ada obat. Hehehee…

Kampung Nelayan, Pisang Pisangan

Tepat jam 11:29 WITA, perahu tempel akhirnya merapat di dermaga, alhamdulillah.. kondisi air sedang surut jadi untuk naik ke dermaga cukup membutuhkan effort karena tangganya tinggi dengan jarak anak tangga yang jauhh. Begitu sampai di pelataran dermaga, mata langsung di sambut dengan hamparan udang yang dikeringkan. Calon udang kering ni, pikirku. Kami pun berjalan melewati lorong berupa jembatan menuju ke salah satu rumah warga. Kukira rumahnya akan jauh ternyata eeh hanya di sebelah jembatan yang kami lewati ini saja, hehehe. Kami lalu masuk setelah bertemu dengan tuan rumahnya. Semua barang bawaan kami bawa langsung ke ruang tengah yang ada pelataran atau terasnya.

Kesan pertama pas nyampai di kampung nelayan ini, panas.. yah meski dekat muara laut dengan angin yang berhembus tapi hawanya tetap panas. Terik matahari seperti menembus kulit. Rumah yang berukuran panjang dengan posisi bagian belakang atau dapur menghadap ke laut ini posisinya sangat terbuka tapi tetap saja angin yang berhembus membawa hawa panas. Mba pemilik rumah, orangnya sangat ramah. “Kenapa datang nda bilang-bilang? Padahal ada kepiting sama udang yang sudah kita siapkan. Ikan pun ada. Kalau kasih kabar sebelumnya bisa kita siapkan makanannya.” Katanya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya.

“Ngga papa Mba, sengaja nggak bilang, biar nda merepotkan.” Jawabku.

“Nda-lah, nda akan repot. Biar bisa makan udang sama kepiting.” Katanya.

“Trus diapakan sudah udang sama kepitingnya ini?” Lanjutnya bertanya.

Aku dengan tanpa malu langsung bilang, “digoreng aja mba, biar cepat. Ngga usah repot-repot.” Kataku.

Mbanya langsung sat set. Kami pun minta izin untuk menyantap bekal yang sudah kusiapkan sambil menunggu udang dan kepiting. Kira-kira 15 menit kemudian terhidanglah 2 piring udang goreng, 2 piring kepiting rebus dan sambalnya. Wah, makan besar ini kataku. Lauk protein lengkap hanya kurang sayuran hijau. No problem yak, makanannya tetap enak kok hehehe…

Setelah makan trus ngapain? Ntar ke part 2 yaaa… keasyikan cerita ini, ngga sadar udah nyampe 1100 kata lebih. Tungguin kelanjutnya ya, bakal ada yang lebih seru.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *