Beberapa hari yang lalu, saya dan suami seperti biasa berjalan dengan mengendarai si biru menyusuri kota Berau. Di perjalanan saya melihat banner besar yang berisi tentang stunting.
Sampai di rumah saya penasaran dan langsung mencari informasinya melalui mesin pencari.

Terus terang, saya masih asing dan baru pertama kali mendengar kata tersebut. Jika melihat sepintas pada banner yang terpasang di simpang jalan, stunting adalah kondisi anak bertubuh pendek.
Ternyata pemahaman tentang kondisi tersebut masih kurang. Ukuran tubuh anak yang pendek bukanlah indikasi kalau anak mengalami stunting.
Nah, beginilah kira-kira informasi yang jelas mengenai stunting yang saya ringkas dari berbagai sumber.
Apa itu Stunting
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang ditandai dengan terhambatnya pertumbuhan fisik dan kognitif akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama.
Menurut data World Health Organization (WHO), sekitar 149 juta anak di seluruh dunia mengalami kondisi ini pada tahun 2020.
Kondisi ini dapat terjadi pada anak yang kurang gizi pada periode kritis pertumbuhan, yaitu dari masa kehamilan hingga usia 2 tahun.
Ia dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan fisik dan mental, serta perkembangan sosial dan ekonomi.
Faktor Penyebab dan Dampak Stunting Pada Anak
Berbagai faktor dapat menjadi penyebabnya. Seperti kurangnya asupan gizi, infeksi, sanitasi dan higienitas yang buruk, serta faktor genetik.
Asupan gizi yang kurang terutama pada masa kritis pertumbuhan akan mempengaruhi ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam melakukan proses pertumbuhan.
Selain itu, infeksi yang sering terjadi pada anak akan memperburuk kondisi stunting karena tubuh tidak dapat menyerap nutrisi secara optimal.
Dampak jangka panjang pun bisa terjadi pada anak. Antara lain adalah keterlambatan dalam perkembangan fisik dan kognitif, keterbelakangan mental, serta berisiko tinggi terkena penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.
Selain itu, juga dapat berdampak pada penurunan produktivitas dan pendapatan di kemudian hari karena anak yang menderita kondisi ini akan mengalami keterlambatan dalam mencapai potensi maksimalnya.
Bagaimana Mencegahnya
Untuk mencegah stunting, perlu dilakukan intervensi yang tepat. Misalnya seperti pemberian asupan gizi yang cukup pada periode kritis pertumbuhan, pemberian imunisasi, serta peningkatan sanitasi dan higienitas.
Bukan hanya itu, edukasi pada masyarakat pun harus dilakukan. Terutama tentang pentingnya pemberian asupan gizi yang cukup pada anak dan pentingnya menjaga sanitasi dan higienitas juga penting dilakukan.
Cara Menangani Stunting
Dalam rangka menangani stunting, perlu adanya campur tangan pemerintah. Utamanya dalam memberikan kebijakan yang mendukung program-program penanganannya.
Program tersebut seperti pemberian makanan tambahan untuk anak-anak kurang gizi, pendidikan kesehatan bagi orang tua, serta peningkatan akses terhadap fasilitas kesehatan.
Yang paling penting juga. dalam upaya pencegahan dan penanganan kondisi ini, perlu adanya kolaborasi antara berbagai pihak. Seperti pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampaknya, serta memperkuat upaya pencegahan dan penanganan di seluruh sektor.
Dari sini bisa kita simpulkan kalau anak yang pendek belum tentu stunting. Sebaliknya anak yang mengalami kondisi stunting sudah pasti pendek.
Jadi Mom, yuk mulai sekarang kita perhatikan asupan gizi buat si kecil. Agar mereka bisa tumbuh besar dengan normal dan bisa ceria seperti anak-anak lainnya.

